Kisah Pertempuran Majapahit, Pasukan Gajah Diusir dengan Api



Kisah Pertempuran Majapahit, Pasukan Gajah Diusir dengan Api
Ricky Anderson, Dody Handoko
Minggu, 6 Desember 2015, 05:52 WIB



VIVA.co.id - Di sebelah barat Kolam Segaran, di areal permukiman warga di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Mojokerto ada sebuah tugu. Konon tugu ini dipercaya dibangun pada era Kerajaan Majapahit. 

Warga menyebut beberapa tonggak itu dengan sebutan Cancangan Gajah. Karena bentuknya yang seperti tugu dan dikaitkan dengan gajah yang merupakan kendaraan orang-orang zaman dulu.

Menurut budayawan Trowulan, Dimas Cokro Pamungkas, pada zaman pemerintahan Brawijaya III, ratunya bernama Sri Gitarja Tribhuwana Tunggadewi Jaya Wisnu Wardhani dan Dyah Wyat Raja Dewi Maharajasa. Pemerintahan ini dipimpin Ratu Kinembar yang merupakan putra dari Sri Jayendra Dewi Dyah Dewi Gayatri Rajapatni Putri dari Raja Singasari Sri Kertanegara.

Di pemerintahan ini terjadi dua pemberontakan, yakni pemberontakan Keto di Besuki dan Sadeng di Puger, Kabupaten Jember. Pada saat penyerangan di Sadeng, yang diandalkan oleh Adipati Sadeng adalah pasukan gajah.


Arca Ganesha Abad 14 Ditemukan di Lahan Warga Malang
“Majapahit hampir saja kalah karena kelakuan senapati Rakembar. Karena ingin menunjukkan prestasinya dengan melakukan penyerangan terlebih dulu dengan menyepelekan Gajah Mada,” ujar Dimas.

Tetapi, terakhir diketahui kalau gajah itu takut dengan api. Akhirnya ada bantuan penyerangan dari laut yang dilakukan oleh sepupu dari Jayanegara atau Brawijaya II, yaitu putra dari Dara Jingga, Keraton Sriwijaya Palembang, yang bernama Adityawarman. Pasukan ini menggempur dari laut dengan menggunakan bola api. Karena gajah ketakutan akhirnya pasukan Sadeng berhasil dikalahkan.

Simbol hewan gajah

Pancer gajah salah satunya di Desa Puger. Dari situ Putri Tri Bhuwana Tunggadewi memakai gajah sebagai salah satu sarana penyerangan dan pertahanan. Di samping itu gajah digunakan sebagai ritual salah satunya kirab.

Akan tetapi, sebelumnya nama gajah ini digunakan sebagai nama kanoragan. Seperti di era Majapahit, banyak patih yang menggunakan nama-nama hewan sebagai simbol kekuatan alam.

Pada pemerintahan Majapahit era Hayam Wuruk, gajah digunakan sebagai ikon. Maka di Pendopo Agung dibangun sebuah tugu yang memang digunakan untuk mengikat gajah. Tapi, dulu belum ada pendoponya. Hanya saja tempat itu digunakan sebagai gladi calon perwira pasukan Majapahit.

Patok tersebut diyakini mempunyai kekuatan. Dulu sebelum berada di belakang Pendopo Agung, patok ini berada di sebelah selatan pendopo. Patok ini sempat ditarik dengan mesin yang akhirnya putus.

Pada pemerintahan Brawijaya III memang banyak peristiwa, salah satunya meletusnya Gunung Kamput atau sekarang Gunung Kelud. Bersamaan meletusnya gunung tersebut, ada dua pusaka Majapahit yang hilang yakni Cihno Nagari Gringsing Lobheng Loweh Luko, yang artinya lambang negara itu berupa buah wilwo (atau mojo) berlatar belakang kain gringsing berwarna merah. Sementara itu, yang satunya adalah Kiai Songsong Udan Riwis, payung susun tiga berwarna merah. 

Bersamaan hilangnya pusaka itu, ada sanepan gajah sebagai pengganti kebesaran kerajaan ini. Karena pusaka ini dianggap sebagai tempat wahyu keraton, orang yang membawa pusaka ini diyakini bisa menjadi raja. Adanya patok gajah ini sebagai tanda agar Majapahit tidak tergeser sebuah kekuatan dari luar.

Artinya, patok gajah ini bukan sebagai cancangan gajah melainkan sebuah tetenger kekuatan Majapahit. Patok pertama di Sadeng dan yang patok yang kedua di Majapahit. Patok di Majapahit ini tetap berpegang terhadap filosofi dulur papat limo pancer.

Maka, sebenarnya, patok ini ada lima. Satu di Sadeng, kedua di Ujung Galuh (Surabaya), ketiga di Keraton Singosari, Tumapel, keempat di Dhoho Kediri, dan kelima atau pancernya di Trowulan. Artinya, patok gajah ini bukan sebagai tempat pemujaan. Yang tempat pemujaan ini justru ada di balai kambang yang tidak akan tenggelam meskipun banjir.




© VIVA.co.id

Misteri Lukisan Bung Karno yang Bisa 'Bernapas'



Misteri Lukisan Bung Karno yang Bisa 'Bernapas'
Rendra Saputra, Dody Handoko
Minggu, 15 November 2015, 10:34 WIB



VIVA.co.id - Lukisan mantan Presiden RI pertama, Soekarno, yang ada di Museum Bung Karno, Blitar kabarnya terlihat hidup. Bagian dadanya terlihat berdetak layaknya orang yang sedang bernapas. Padahal, ketika masih berada di Istana Bogor, lukisan ini biasa saja.

Diketahui, museum ini memang berdiri berhadap-hadapan dengan makam sang proklamator dengan nama museum Bung Karno. Di museum ini, terdapat sebuah lukisan besar dengan ukuran 150 centimeter x 175 cm yang bergambar Bung Karno. Menurut sejumlah orang yang pernah melihatnya, lukisan ini seperti hidup.

“Jika melihat lukisan ini ke bagian jantung Bung Karno, maka seketika tampak bergerak, seolah jantungnya berdetak seperti layaknya orang yang sedang bernapas. Saya pernah menyaksikan sendiri ketika berkunjung ke sana,” ujar Dimas Cokro Pamungkas, budayawan yang tinggal di Jombang, Jawa Timur.

Padahal, lukisan bergambar Bung Karno yang sedang menggunakan jas serta berkopiah ini tergolong lukisan baru. Menurut keterangan salah seorang petugas museum, gambar Bung Karno yang dilukis di atas kanvas ini, dilukis oleh IB Said pada tahun 2001 yang lalu. Seterusnya, setelah diserahkan kepada keluarga sang proklamator yang meninggal 21 Juni 1970 ini, lukisan itu disimpan di Istana Bogor.

Namun, tiga tahun setelah disimpan di Istana Bogor, lukisan bergambar lelaki gagah yang lahir 6 Juni 1901 ini, oleh pihak keluarga kemudian dibawa ke Blitar dan disimpan di Museum Bung Karno. Sejak disimpan di Museum Bung Karno, lukisan bergambar putra pasangan suami isteri R. Sukeni Sosrodiharjo dan Ny. Ida Ayu Nyoman Rai ini tampak hidup. Perisiwa menggemparkan ini muncul ketika perayaan Haul Bung Karno tahun 2004 silam. Pengunjung gempar karena menyaksikan lukisan itu seperti berdetak.

Sebagai museum yang identik dengan Bung Karno, seluruh museum ini berisi barang-barang yang semua ada kaitannya dengan Presiden pertama RI tersebut. Mulai dari uang kuno bergambar Bung Karno yang dapat kembali dengan sendiri ketika digulung, buku-buku milik Bung Karno, foto-foto kegiatan suami Fatmawati ini ketika masih menjadi Presiden. Serta sebuah bendera kuno yang terbuat dari kain penutup dada Fatmawati yang pernah dikibarkan pada tanggal 16 Agustus 1945 di Rengasdengklok.


Ini Alasan Bung Karno Pilih Ali Sadikin
Terdapat pula sebuah tas koper besar dari kulit yang selalu dibawa oleh Bung Karno ketika keluar masuk penjara, atau ketika ayah kandung Megawati ini belum menjadi Presiden. Masih banyak lagi barang milik Bung Karno lainnya yang dipamerkan.

(mus)




© VIVA.co.id

Aneh, Desa Ini Bernama Kuburan



Aneh, Desa Ini Bernama Kuburan
Bayu Adi Wicaksono, Dody Handoko
Selasa, 13 Oktober 2015, 06:43 WIB

VIVA.co.id - Makam Mbah Sayyid Sulaiman terletak di di Dusun Rejo Slamet, Desa Mancilan, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur. Kompleks makam yang luasnya sekitar dua hektare itu sebenarnya terletak persis di perbatasan antara Dusun Rejo Slamet dan Desa Betek.

Namun karena sudah terlanjur dikenal makam tersebut terletak di Desa Betek, para pengunjung pun hingga saat ini menyebut makam Mbah Sayyid Sulaiman tersebut di Desa Betek. 

Padahal, makam tersebut ada di Dusun Rejo Slamet, tepatnya Desa Mancilan. Bahkan, ada cerita sebelum makam Mbah Sayyid ini dikenal banyak orang, Dusun Rejo Slamet bernama Dusun Kuburan (Makam).


Legenda Bayi yang Dibuang di Laut
"Dusun Rejo Slamet dulu adalah Dusun Kuburan sehingga ketika orang mau ke Rejo Slamet pasti mengatakan mau ke kuburan atau ke makam. Lantaran orang-orang dulu merasa nama itu tidak enak didengar lalu diganti dengan nama Rejo Slamet," ujar Dimas Cokro Pamungkas, budayawan Jombang.

Di kompleks makam Mbah Sayyid ini terdapat makam Mbah Alief. Ada aturan, sebelum ziarah ke makam Mbah Sayyid sebaiknya ziarah ke Makam Mbah Alif terlebih dulu. Karena semasa masih hidup, tujuan Mbah Sayyid adalah ziarah ke makam Mbah Alif.

Hampir setiap hari makam Mbah Sayyid ramai dikunjungi peziarah. Akan tetapi pada malam Jumat legi, banyak peziarah yang memilih menginap. Apalagi di kompleks makam ini terdapat sebuah masjid yang cukup besar, semakin menambah kerasan pengunjung yang ingin berburu berkah Mbah Sayyid.

Ditakuti Belanda

Mbah Sayyid Sulaiman adalah putera sulung dari Sayyid Abdurrahman dari Yaman yang menikah dengan Syarifah Khadijah, Putri Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Dua adik Mbah Sayyid Sulaiman adalah Sayyid Abdurrahim dan Sayyid Abdul Karim.

Legenda Bayi yang Dibuang di Laut

Menginjak dewasa, Belanda sangat takut dengan pengaruh dakwah Sayyid Sulaiman. Maka belanda membuang Mbah Sayyid muda ke Krapyak, Pekalongan. Dari Pekalongan, Mbah Sayyid kemudian hijrah ke Solo untuk berdakwah.

Setelah berdakwah di Solo kemudian beliau melanjutkan perjalanan dan berangkat ke Surabaya untuk berguru ke Sunan Ampel. Usai nyantri di Sunan Ampel beliau kemudian berguru ke Mbah Sholeh Semendhi di Segoropuro Pasuruan. Setelah mondok, beliau tinggal di Kanigoro, Pasuruan hingga mendapat julukan Pangeran Kanigoro.

Setelah menikah dengan putri Mbah Sholeh Semendhi beliau kembali ke Cirebon. Namun lantaran suasana Cirebon tidak kondusif disebabkan karena pertikaian antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan puteranya sendiri Sultan Abdul Qohar, maka beliau memutuskan kembali ke Pasuruan.

Akan tetapi baru tiba di Pasuruan, beliau dipanggil oleh Kesultanan Solo yang berterima kasih karena pernah ditolong oleh beliau. Sekembalinya dari Solo beliau berpamitan kepada istrinya untuk ke Sunan Ampel, namun baru sampai di Mojoagung Jombang, beliau sakit hingga akhirnya wafat dan dimakamkan di kampung tersebut.




© VIVA.co.id

Misteri Arca Gayatri, Bisa Mengangguk dan Berkedip



Misteri Arca Gayatri, Bisa Mengangguk dan Berkedip
Bayu Adi Wicaksono, Dody Handoko
Rabu, 7 Oktober 2015, 06:35 WIB



VIVA.co.id - Candi Gayatri terletak di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu Tulungagung Jawa Timur. Candi yang biasa disebut dengan Candi Boyolangu ini ditemukan pada tahun 1914 oleh masyarakat desa setempat.

Candi Gayatri merupakan candi peninggalan jaman Kerajaan Majapahit. Dibangun era Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk penghormatan dan makam Putri Gayatri yang bergelar Rajapatni istri keempat Raja Kertarajasa Jaya Wardhana (Raden Wijaya).

Putri Gayatri wafat pada tahun 1350. Candi tersebut merupakan area pemakaman Putri Gayatri. Pada tahun 1350-1389 Hayam Wuruk selalu memperhatikan pemeliharaan terhadap makam-makam pada raja dan pahlawan Majapahit. Beliau memerintahkan untuk membuat Candi Patung Gayatri di tempat makamnya.

Putri Gayatri bernama Dyah Prajnaparamita atau Gayatri Sri Rajapatni adalah istri keempat Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), yang merupakan raja pertama Majapahit.

Gayatri juga merupakan ibu dari ratu ketiga Majapahit, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang membawa Kerajaan Majapahit meraih masa gemilangnya. Gayatri melahirkan generasi raja-raja dan ratu ternama di Tanah Jawa.

"Perempuan jelita inilah tokoh sentral di balik Kerajaan Majapahit. Peranan Gayatri dalam kerajaan Majapahit sangat besar. Dia berada di balik kesusksesan Majapahit baik di Nusantara maupun dalam menghadapi ancaman luar negeri,"ujar Dimas Cokro Pamungkas, budayawan Majapahit.

Sejak ayah dan ibunya yang berasal dari Kerajaan Singasari meninggal, Gayatri meneruskan cita-cita sang ayah untuk mempersatukan Nusantara. Gayatri berperan penting tapi tidak terlalu mencolok dalam menyatukan berbagai macam kerajaan kecil menjadi sebuah kerajaan besar.

Candi Gayatri merupakan kompleks percandian yang terdiri dari tiga bangunan perwara. Masing-masing bangunan menghadap ke barat. Bangunan pertama disebut sebagai bangunan induk perwara, karena berukuran lebih besar dibandingkan dua bangunan yang lain. Bangunan ini terletak di tengah-tengah bangunan lainnya.

Bangunan induk terdiri dari dua teras berundak yang hanya tinggal kaki bangunannya. Bangunan berbentuk bujur sangkar dengan panjang dan lebar 11, 40 Meter. Sisa ketinggian candi kurang lebih 2,30 Meter

Di sini terdapat sebuah sempalan arca wanita Budha dan beberapa umpak berukuran besar. Kondisi arca sudah rusak, namun masih terlihat baik. Bagian kepala dan anggota tangan arca hilang karena pengrusakan. Oleh para ahli arca ini dikenal dengan nama Gayatri.

Candi Gayatri terletak di Dukuh Dadapan, Desa Boyolangu Tulungagung Jawa Timur. Candi yang biasa disebut dengan Candi Boyolangu ini ditemukan pada tahun 1914 oleh masyarakat desa setempat.

Candi Gayatri merupakan candi peninggalan jaman Kerajaan Majapahit. Dibangun era Raja Hayam Wuruk sebagai bentuk penghormatan dan makam Putri Gayatri yang bergelar Rajapatni istri keempat Raja Kertarajasa Jaya Wardhana (Raden Wijaya).

Putri Gayatri wafat pada tahun 1350. Candi tersebut merupakan area pemakaman Putri Gayatri. Pada tahun 1350-1389 Hayam Wuruk selalu memperhatikan pemeliharaan terhadap makam-makam pada raja dan pahlawan Majapahit. Beliau memerintahkan untuk membuat Candi Patung Gayatri di tempat makamnya.

Putri Gayatri bernama Dyah Prajnaparamita atau Gayatri Sri Rajapatni adalah istri keempat Raden Wijaya (Kertarajasa Jayawardhana), yang merupakan raja pertama Majapahit.

Gayatri juga merupakan ibu dari ratu ketiga Majapahit, Sri Gitarja (Tribhuwanatunggadewi), sekaligus nenek dari Hayam Wuruk (Rajasanegara), raja yang membawa Kerajaan Majapahit meraih masa gemilangnya. Gayatri melahirkan generasi raja-raja dan ratu ternama di Tanah Jawa.

"Perempuan jelita inilah tokoh sentral di balik Kerajaan Majapahit. Peranan Gayatri dalam kerajaan Majapahit sangat besar. Dia berada di balik kesusksesan Majapahit baik di Nusantara maupun dalam menghadapi ancaman luar negeri,"ujar Dimas Cokro Pamungkas, budayawan Majapahit.




© VIVA.co.id

Kisah Tragis Minak Jinggo, Tewas Dipenggal



Kisah Tragis Minak Jinggo, Tewas Dipenggal
Bayu Adi Wicaksono, Dody Handoko
Selasa, 8 September 2015, 06:12 WIB

VIVA.co.id - Candi Minak Jinggo di Dusun Unggahan, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, merupakan salah satu bukti sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit dan cerita besar tentang Minak Jinggo.

Tak seperti candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit lainnya, Candi Minak Jinggo memiliki ciri sendiri dalam bahan bangunannya. 

Jika kebanyakan candi-candi peninggalan Majapahit terdiri dari satu bahan saja, apakah batu bata atau batu andesit, beda dengan Candi Minak Jinggo. Bahan bangunan merupakan rangkaian dari batu andesit dan batu bata.

Sayangnya, saat ini kondisinya berserakan. Batu andesit kuno dengan berbagai macam ragam dan bentuk tak lagi tertata apik. Ceceran benda bersejarah itu hanya dilindungi atap plastik yang sudah lapuk.

Beberapa benda kuno yang berhasil diangkat dari bangunan utama, juga terkesan terabaikan dan dibiarkan tercecer di luar bangunan utama candi. Benda-benda bersejarah ini, tertumpuk begitu saja seolah tak memiliki nilai apapun.


Kisah Bung Karno Nekat Menikah Lagi Meski Dimarahi
Masyarakat Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan menyebut candi ini sebagai Candi Minak Jinggo. "Candi ini dalam buku Negarakertagama disebut sebagai tempat Raja Hayam Wuruk melakukan ritual," ujar budayawan Trowulan, Dimas Cokro Pamungkas.

Meski beberapa kali dilakukan penggalian terhadap candi yang memiliki luas lahan sekitar 1,5 hektare ini, tetapi sampai saat ini belum juga dilakukan pemugaran.

Kali pertama dilakukan penggalian tahun 1977 silam. Penggalian perdana di era penjajahan Belanda itu, ada beberapa patung raksasa yang ditemukan. Setelah itu, penggalian tak berlanjut. Bekas galian pun ditutup kembali. Dan tahun 2007 dilanjutkan kembali.

Sayangnya, penggalian kedua juga tak tuntas. Entah apa sebabnya. Sampai pada tahun 2010 lalu, kembali dilakukan penggalian. Namun, penggalian ketiga ini pun tak sampai selesai. Meski beberapa benda kuno yang berhasil diangkat dari dalam candi, sebagian disimpan di BP3 Trowulan. 

Sementara benda-benda lainnya ditaruh tak jauh dari lokasi penggalian. Meski sudah tiga kali dilakukan penggalian. Namun Candi Minak Jinggo belum bisa dilihat secara utuh. 

Sejauh ini, upaya pemugaran belum dilakukan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jatim yang ada di Trowulan. Berbeda dengan candi yang sudah dipugar lainnya, nasib Candi Minak Jinggo terbengkalai.

Tempat kepala Minak Jinggo ditanam

Candi Minak Jinggo terkait dengan kisah peperangan Minak Jinggo dengan Damar Wulan. "Candi ini diduga juga sebagai tempat ditanamnya kepala Minak Jinggo," ujar Dimas.

Konon pada saat itu, pemerintahan Majapahit terbagi menjadi dua yakni Majapahit Brangwetan dan Majapahit Brangkulon. 

Majapahit Brangwetan dikuasai Bhre Wirabumi atau Minak Jinggo yang merupakan adipati Blumbung yang terletak di Blambangan. Sementara itu Brangkulon dikuasai oleh Gusti Putri Kencono Wungu yang merupakan putri dari Hayam Wuruk.


Kisah Bung Karno Nekat Menikah Lagi Meski Dimarahi
Dalam menyatukan Majapahit, Minak Jinggo mempunyai keinginan untuk menyunting Kencono Wungu. Tetapi Gusti Putri Kencono Wungu menolak permintaan Adipati Blambangan untuk menjadi pendamping hidupnya.

Pada suatu malam, Kencono Wungu mendapat wahyu bahwa ada seorang pemuda yang pekerjaannya mencari rumput yang sanggup mengalahkan Minak Jinggo. Di saat itu Patih Lohgender menerima keponakannya sendiri yang bernama Damarwulan untuk mengabdi di Kepatihan.

Maka Patih Lohgender menempatkan Damarwulan sebagai pekerja perawat kuda sekaligus pencari rumput. Patih Lohgender mempunyai seorang Putri Anjasmoro dan dua kakak kembar bernama Layang Seto dan Layang Kumitir.

Setelah menerima wahyu yang didapat dari Kencono Wungu tentang adanya seorang satria pencari rumput, maka Raden Damarwulan diberi tugas untuk menyingkirkan Adipati Blumbung.

Atas perintah Kencono Wungu maka Damarwulan menyerang Minak Jinggo di Blambangan dengan sabdo apabila Raden Damarwulan dapat memusnahkan Adipati Blambangan, maka akan menjadi pendamping hidup Kencono Wungu untuk pemerintahan Kerajaan Majapahit di era Brawijaya V.

Ternyata Anjasmoro, putri Lohgender juga ingin diperistri Damarwulan. Maka sebelum Damarwulan melaksanakan tugas untuk menyerang Blambangan, terlebih dulu dinikahkan dengan Anjasmoro.

Menikahi selir kembar Minak Jinggo

Sesampainya di Tlatah Blambangan, Damarwulan hampir saja kalah melawan Minak Jinggo. Namun, atas pertolongan selir kembar dari Adipati Blumbung yang bernama Waito dan Puyengan hingga akhirnya Minak Jinggo mampu dikalahkan. Hanya saja selir kembar tersebut meminta syarat kepada Damarwulan untuk menikahinya.

Kisah Bung Karno Nekat Menikah Lagi Meski Dimarahi

Maka sebagai bukti atas kemenangannya, maka Damarwulan membawa kepala Minak Jinggo sebagai persembahan kepada Putri Kencono Wungu. Maka hingga saat ini di desa Unggahan, kecamatan Trowulan ada petilasan Minak Jinggo.

Seketika itu Raden Damarwulan jumeneng menjadi raja Majapahit bergelar Brawijaya V didampingi permaisuri Kencono Wungu. Dalam perjalanannya Raden Damarwulan mengambil seorang selir dari negara Campa bernama Putri Campa atau Putri Dwara Wati.

Putri Dwara Wati mempunyai keponakan dari negara Campa bernama Raden Rahmat yang kemudian dipanggil ke Majapahit dan sekaligus diambil menantu oleh Brawijaya V dan setelah itu diberi tanah perdikah di Ujung Galuh (Surabaya).

Di akhir pemerintahan Damarwulan juga mempunyai seorang selir dari negara China bernama Putri Kian atau Shio. Pada saat hamil tua diserahkan kepada Adipati Arya Dhamar di Palembang. Yang kemudian terlahirlah seorang putra bernama Raden Patah. Cikal bakal berdirinya kerajaan kesultanan Islam pertama di Jawa, di Demak Bintoro.




© VIVA.co.id